“muli
tuha,bebai rik lawok”
By :
elly dharmawanti
*
Pagi
nan indah, Siti keluar dari rumahnya menuju pantai.Semalah hujan deras sekali,
pasti luapan air laut membawa banyak pasukan kayu-kayu basah yang bias ia
keringkan menjadi kayu bakar. Di pantai, banyak sudah perempuan-perempuan lain
yang mulai mengumpulkan kayu,mereka saling tegur sapa dengan akrap, wajah-wajah
begitu ceria dengan senda gurau.
Siti
hanya menatap mereka dari kejauhan ,ia begitu ingin bergabung dengan mereka,
merasakan keakrapan dan kehangatan yang ada, tapi ia hanya menarik napas
panjang, lalu memutar langkah menuju garis pantai yang berlawanan arah.Dalam
dia ia kumpulkan ranting-ranting kayu basah.
**
Bagi
siti hidup tak pernah adil, ia tidak pernah
diperlakukan adil oleh keluarga dan lingkuingan.Siti begitu iri dengan
kehidupan kedua adik perempuannya laila
dan Nur, mereka berdua lahir dengan segala kesempurnaannya, mereka cantik dan
pintar (menurut bapak). Iya paling tidak mereka berdua pintar menarik perhatian
banyak lelaki, sehingga mereka berdua sudah memiliki suami dalam usia yang
masih tergolong muda. Ketika itu Siti meras sakit hati dan hancur,ketika perlahan-lahan kedua
adiknya melangkahi dia dalam perkawinan.
Tapi ia sadar ,ia juga tidak akan pernah memiliki sebuah keluarga kecil yang
manis seperti yang sering ia bayangkan.
“mengapi
nyakku terlahir bida mak, mengapi nyak bida jak adik-adikku”Siti menangis
dipelukan emak. Seperti biasanya perempuan tua itu hanya
terdiam, lantas keduanya larut dalam tangis berkepanjangan.
Bagi
Siti hanya emak yang ia punya di dunia ini,hanya emak yang mengerti
perasaannya, hanya emak yang melindungi dan membelanya dari cemoohan
orang-orang, termasuk kedua saudara perempuannya. “pudak beruk,pudak
beruk,pudak beruk usuk”ejekan yang sangat akrap ditelinganya.
***
Menurut
cerita emak,ketika Siti dalam kandungan tidak ada hal ganjil yang emak
rasakan.Emak dan bapak begitu bahagia menanti saat-saat kelahirannya,hingga
tiba ia hadir di dunia dengan batuan dukun persalinan emak berjalan dengan normal
dan lancer. Awalnya emak dan bapak tidak menyadari bahwa bayi yang mereka timang, sepasang
kakinya tidak sama panjang.juga tidak begitu peduli dengan bercak merah
kehitam-hitaman di pipi sebelah kanannya.Mereka mengasuh Siti dengan penuh
kasih sayang. Semakin hari fisik Siti makin berkembang,termasuk bercak merah di
pipi kanannya yang trus melebar dengan bulu-bulu hitam diatasnya hingga
menutupi seluruh bagian muka hingga bagian lehernya.Segala upaya penyembuhan
sesuai yang terjangkau biayaya telah dilakukan emak dan bapak,tapi tidak ada
yang membuahkan hasil,membuat dunia Siti menjadi gelap dan hampa.
Malam
ini emak mengeluh sakit lagi,akhir-akhir ini cuaca tidak bersahabat mebuat emak
sering batuk dan sesak napas.Siti member emak obat sambil memijit-mijit kaki perempuan lanjut usia itu dengan penuh
kasih.
Setelah
bapak meninggal dua tahun lalu,Siti hanya tinggal berdua dengan
emak,menggantungkan hidup dari sepetak sawah sementara kedua saudara
perempuannya tinggal jauh di tempat lain bersama suami dan anak-anaknya, hanya
sesekali mengunjungi gubuk kecil yang
telah membesar dan merawat mereka.
Kelelahan
memijit , siti pulas tertidur disebelah kaki emak,ada butir-butir bening
menalir dari sudut mata perempuan tua itu, tangannya yang lemah membelai rambut
siti dengan perlahan “malang nihan nasipmu nak” lirih perempuan itu berguma,
lalu sebaris doa keluar dari bibirnya lirih nyaris tampa suara.
****
Sebelum
subuh tiba, seperti biasa Siti sudah
bangun, mencuci muka di sumur belakang rumah, lalu menyalakan tungku merebus
air menanak nasi dan lauk seadanya.Emak masih lelap dalam selimut usangnya.
Siti termangu di depan tunggu yang menyala. Tidur tadi ia bermimpi, seekor ular
sangat besar melilit tubuhnya, kuat hingga ia nyaris tak bias bernapas, lalu ia
teringat emak pernah bercerita bahwa mimpi di lilit ular adalah pertanda bahwa
jodoh seseorang sudah sangat dekat, siti berguma “ apa mungkin” lalu mengangkat
air yang mulai mendidih.
Seperti
pagi-pagi yang lain, siti selalu ke pantai, meski tidak banyak kayu basah yang
bias ia kumpulkan.Baginya ke pantai yang hanya berjarak sekitar dua ratus meter
dari rumah, sama halnya dengan mengunjungi dunia lain, dunia yang indah yang
bias ia nikmati dalam kesendirian. Pantai sepi, Siti duduk di bawah pohon pandan
sambil menekuk lutut memandang laut biru, lirih ia bersenandung /mati
sakik hurikmu badan/selalu tiram dawah dibing/nyak minjak pedom/ diguya
hiwang/niku dilom hanipi/
Matahari
masih enggan menampakkan sinarnya dengan sempurna, siti berhenti bersenandung,ia
menatap dikejauhan laut,ke sekawanan camar yang terbang bebas di
angkasa,terlihat riang dan indah gerakan mereka. Siti jadi iri dan membayangkai
ia adalah salah seekor dari camar itu. Tiba-tiba…uupppsss..Siti jadi sulit
bernapas, pendangannya gelap, seperti ada yang menarik badannya ke
belakang,siti menyadari bahaya mengintainya ketika sadar bahwa kepalanya telah
ditutupi dengan kain warna gelap dari belakang oleh tenaga yang sangat kuat.
Sementara ada tangan yang mulai menyentuh bagian tubuhnya yang lain dan
berusaha menarik membuka paksa baju yang ia kenakan. Siti berontak, melawan
sekuat tenaga yang ia bias.terdorong naluri untuk menyelamatkan diri siti
menendang, mendorong menggigit, memukul kekanan kekiri, kedepan ,kebelakang, ke
udara kosong. Dan ia masih kesulitan bernapas, mulutnya tidak bias bersuara, ia
ingin sekali berteriak meminta pertolongan, dalam kepanikan dan keputusasaan,
tiba-tiba..tap, ujung kakinya menyentuh sebuah benda keras, sepertinya
kayu,reflek ia berjongkok, memunguti
benda tersebut, hup kena,ia pukulkan berkali-kali kearah orang yang
membekapnya.kain yang menutupi kepalanya mulai sedikit mengendur. Siti makin
semangat, memukul membabi buta, ke kiri ke kanan,depan belakang hingga ia
rasakan tidak ada lagi tenaga yang membekap tubuhnya.Siti bebas, ia lari
sekencang-kencangnya, tampa arah tampa tujuan, lari,lari dan lari.
Saat
kakinya mulai lelah , ia baru menyadari bahwa kepalanya masih tertutup kain,
dengan kesal ia tarik benda tersebut.Matanya mengerjab melihat sekeliling, ia
masih berada di pinggir laut, tapi jauh di tempat lain. Ia terkulai lemas di
pasir, menangis sesungkukan, matahari diatas kepala, dengan gontai ia ayunkan
kaki menuju rumah.
*****
Sakit
emak semakin parah, perempuan tua itu masih terbaring di ranjangnya yang reot,
begitu melihat siti membuka pintu, ia mengisyaratkan supaya siti mendekat.Emak
seperti tau kesedihan anaknya, siti bersimpuh di samping pembaringan, emak
membelai rambutnya dengan lembut.Siti mulai terisak, mula-mula perlahan, lalu
mulai mengeras berkelanjutan.Sungguh siti tidak mampu menceritaka peristiwa
yang ia alami. Tanga emak masih mengusap kepalanya, pelan, pelan, pelan makin
pelan dan akhirnya berhenti untuk selamanya.
*******
Setelah puas menangis, Siti baru menyadari tangan
emak masih di atas kepalanya, tapi tidak sedang
membelai rambut seperti yang biasa ia lakukan.Siti mengangkat kepalanya
melihat emak, mata emak terpejam, tenang. Siti merasakan dadanya
bergetar,seluruh persendiannya melemah, bangkit ia dengan panik
mengguncang-guncang tubuh ringkih itu, sambil memanggil-manggil peremempuan
yang paling ia cintai itu. Ia raba nadinya, tak ada denyut, didekatkannya
kuping ke dada, tak ada detak, di letakkannya jari tangan di kedua lobang
hidung,tak ada napas berhembus.siti lunglai dalam tangis berkepanjangan, ketika menyadari bahwa kini ia benar-benar
sendiri. ( foto : duta suhanda)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar