Rabu, 13 Februari 2019

"senja yang kesekian"





Adalah kita
setia melangah di tempat yang  sama
Tempat yang katamu menyimpan banyak rindu
Tempat yang kataku penuh duri dan batu
Tempat yang tak bisa kita hapus dari peta ingatan

Tak ada yang peduli, kita  abai
Kita tau di depan tak ada jalan datar
Banyak tanjakan dan batu sandungan
Banyak binatang melata di sela dedaunnan
Hingga alas kaki yang kita kenakan menipis oleh waktu
Daki menebal di kulit mukamu
juga rambut kusutku

Hingga senja kesekian
Kita bahkan lupa menandai almanak
Seberapa jauh perjalanan
Pada akhirnya:
Bukan hal mudah bagi kita
Bersikap biasa setelah ada hati yang terluka

Selasa, 04 Juli 2017


"Fragmen hujan"

1.
Dibulan juni Sapardi menulis puisi
"Adakah yang lebih tabah dari hujan bulan ini"
Diwaktu lain,januari mencatat kisah
"Tak ada yang lebih tabah dari hati yang tersakiti"

2
Remang petang dan selepas hujan
Apa yang paling kamu harapkan dalam kesendirian?
Sebuah pelukan hangat atau kenangan yang belum tuntas
"Aku memilih kopi dengan pahit yang kental:
Sebuah suara menyeruak di rongga dada
Aku menghela napas yang ,endadak sesak
Menghirup oksigen sebanyak yang aku bisa
Sebab aku tau pasti bukan itu jawabannya

3
Adakah yang lebih indah
Dari hujan dan secangkir kopi
Diberanda ia melapangkan dada
Kenangan mengepung di bingkai kaca
Ia abadi
:: hal apa yang membuatmu begitu menyukai hujan?
Hanya dingin
Hanya angin
Tak ada hangat yang ia bawa
Tanya lelaki dari segala cuaca yang tak bisa ia duga
"Sebab hujan selalu mendatangi bumu, meski ia tau akan jatuh berkali-kali"

4
Seperti angin begitulah ingin
Maka berhembuslah segera kau sapa aku
Meski sebuah pesan singkat
Serupa susunan hurup
Itu saja cukup
Sebab aku terlanjur bosan menunggu
::selepas hujan aku merindukanmu

5
Baiklah puan
Sudah cukup termangunya
Diluar hujan sedang lebatnya
Perempuan itu menggeleng tidak
Aku masih ingin berlama-lama disini
Memandang titik hujan
Menghirup aroma tanah dan rumput basah
Membiarkan tubuh disergap dingin
Dan kenangan yang selalu hadir

6
Jika rindu menyiksamu
Mengapa menolak bertemu
Bisik hujan kepada angin beraroma asin
Serupa peluh waktu
Yang tak bisa ia sentuh kapanpun mau

7
Hujan luruh dikotaku
Rintik kenangan hadir
Tidak memberi tanda juga aba-aba sebelumnya
Aku dihinggap gagap
:: tak  perduli seberapa jauh kaki melangkah
Seperti hantu
Masalalu selalu punya cara untuk menemukanmu

8
Sejak kapan hujan menjelma dimata indahmu
Tanya bangku lapuk di pantai itu
"Sejak tak lagi ia sisipkan rindu dihelai rambutku"
Jawab permpuan berpipi merah jambu







Minggu, 12 Maret 2017

"Ketika senja menjelma kenangan"



"Ketika senja menjelma kenangan,apa hal pertama yang akan kau lakukan"
Sebuah pesan masuk di sore yang mendung

Aku tidak harus mengetik balasan
Sebab nun jauh disana
Seseorang sedang membayangkan
Tampa suara aku pasti melangkah ke arah jendela
Jendela dengan besi yang menua
Membuka kaca dengan lebar
Bertopang dagu dengan mata terpejam
Bermimpi  menari di bawah gerimis
Tampa musik tanpa lagu



Senin, 27 Februari 2017

"Perempuan dan senja"



Ada banyak kisah yang kau ceritakan pada senja
Tentang angan angan dan masa depan
Tentang mimpi yang kau susun dengan rapi
Tentang  air mata yang diam- diam kau pelihara
Tentang dia yang tak bisa kau benci betapapun inginnya

Ada banyak rahasia yang kau bagi dengan senja
Senja yang katamu bisa di percaya sebagai pendengar setia
Senja yang nyaris sama
Senja yang slalu memeluk lukamu dengan sempurna









Jumat, 24 Februari 2017

"Himpun ramik"



(Bagian lima)

Himpun ramik,biasa ni guwai sinji angkah bujarak pira rani jak himpun muwari (tergantung kesepakatan pas di himpun muwari,kapan waktu pas ni).

Dilom himpun ramik ji, sai himpun adu ancak lamon ni, lain hak keluarga inti ria, kitu adu keminan kemamak,kenakan jawoh juga di undang ngicik haga nyambut guwaian sa.

sai menjadi inti kicik an di lom himpun ramik ji sai jelas mengenai guwaian kik dinana sa, aga repa bunyi ni, repa aga balak ni guwai,sapa-sapa sai aga ti keni pandai terutama jak luar pekon, kira-kira sapa sai aga jadi tutukan ni baya tuha maupun baya muli meranai kanah.
juga nentukon kapan bebai mulai nyani buwak,kapan aga mulai negak kubu jinjongan,kapan aga butetikol (kik wat sai aga di tikol : kambing,jawi,kebau),kapan bebai mulai kebulung,kapan mulai nyelimpok,rik sai bareh-bareh,sai inti ni menyangkut pelaksanaan ni kanah sa.

Rabu, 22 Februari 2017

                                               "Padamu yang batu"



Batu dan rindu
Kolaborasi penyatuan yang unik
Ceracaumu pada sebuah waktu
Waktu yang kemudian kita beri lingkaran merah
Sebagai penanda bahwa kita sepasang manusia
Yang sama-sama enggan saling melupakan

Batu dan rindu:
Adalah batu,takdirnya menjadi keras
Dan rindu,ia bisa menjelma apa saya bahkan lewat bisikan angin
Entahlah..
hingga kita melangkah kearah yang tak lagi sama
Aku tak memahami dua kata itu
Hingga keras gelombang menyadarkanku pada sesuatu
Ketika kau  pergi
Aku tau hatiku telah menjadi batu


Minggu, 19 Februari 2017

                          "Tentang kamu &kacang tujin itu"



Pernah pada suatu masa,kamu begitu terpesona
Pada tiap kelokan dan aliran sungai
Pada teriakan anak-anak penjual makanan
Sebagai penanda hari dan kita harus lekas mandi
Dan kau berkali-kali mengejekku karena itu

"Makanan ini hanya ada di kota yang panas ini"
Ucapku pada suatu hari
Dengan tangan dan mulut mengunyah penuh
Meski terkesan hati-hati sebab aku takut kacang keras kecil itu
Tampa sadar terselip di gigi berlubangku

"Gurih dan enak, sepertinya juga penuh gizi"
Aku setuju dengan pendapat mu itu
Dan pada akhir nya kita akan tertawa entah untuk apa.